Rabu, 15 Februari 2012

Rahasia Doa

0 comments
Dik Andi memposting kalimat bijak ini di FB-nya tanggal 5 Feb yang lalu. Semakin saya renungkan, semakin saya menyadari betapa besar rahmatNYA, dan sungguh menumbuhkan motivasi dari dalam diri.


"Allah menjawab doa kita dengan 3 jalan. Pertama, mengabulkan apa yang kita minta. Kedua, tidak mengabulkan apa yang kita minta, tetapi memberinya yang lebih baik. ketiga,menunda untuk mengabulkan doa kita dan memberinya di waktu yang sangat tepat. Jadi teruslah berdoa,jangan pernah berpikir Allah tidak mendengar doa kita!! "

Senin, 13 Februari 2012

Aku dan Nasihat-nasihat Ibu...

0 comments

Hari ini memang bukan hari Ibu, tapi aku ingin sekali menulis tentang Ibu...

Kisahku mungkin berbeda dengan yang lain, setidaknya dengan dua orang adikku Nila dan Andi.  Jika mereka hidup dan besar ‘di dalam’ rumah, aku merasa diriku tumbuh di luarnya. Sejak lulus SMP pada tahun 1994 hingga kini, hampir 17 tahun, aku mengembara keluar rumah. Tiga tahun kuhabiskan bersekolah asrama di SMA Taruna Nusantara Magelang. Tiga bulan pertama adalah saat paling menyiksa, jauh dari keluarga untuk pertama kali. “Selamat tinggal ayah, bunda, adik, kakak, dan kampung halamanku yang kucinta…”, adalah bait salah satu lagu di sekolah itu yang menyayat hati. Aku bisa pulang ke Semarang hanya saat liburan sekolah. Liburan semester satu minggu dan kenaikan kelas 3 minggu.

Lulus SMA, aku bahkan tak sempat pulang dulu karena harus mengejar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di Bandung. Dan hari-hari berlalu dengan melewati masa sebagai mahasiswa di Bandung. Selama itu, aku juga pulang tiap habis semesteran saja, rata-rata enam bulan sekali. Aku pulang agak panjang saat libur Lebaran. Itu pun lebih banyak ‘molor’ di rumah, balas dendam dengan malam-malam panjang bergadang menyelesaikan tugas-tugas praktikum yang  mencekam. Tak terasa lima tahun berlalu, dan selama itu hanya dua kali aku disambangi keluarga. Pertama saat tingkat dua, dan terakhir waktu wisuda. Segala tetek bengek urusan nge-kos dan kehidupan perkuliahan aku urus sendiri. Masa-masa pergeseran keremajaan dan pendewasaan aku lalui dengan caraku sendiri, dengan teman-teman, berkutat di antara unit-unit kegiatan dalam dan luar kampus.

Tak banyak waktu setelah lulus karena aku harus segera bekerja dan kini nasib mengantarku ke Jakarta. Sungguh, awalnya tak pernah aku bermimpi akan hidup di kota metropolis ini. Saat masih mahasiswa, beberapa kali aku berkesempatan datang ke Jakarta dan langsung jengah. Kota ini lebih jahat dari kota-kota lain, lebih cepat, lebih kasar, segala sesuatu grusa-grusu (terburu-buru), dan menuntut kewaspadaan. Toh, nyatanya aku bertahan hingga lebih dari 8 tahun cari makan di sini, bahkan memutuskan untuk membeli sebuah rumah cilik dan hidup dengan istriku di pinggiran kota Jakarta. Kami berdua sama-sama bekerja, jadi makin sedikit saja waktuku untuk pulang ke Semarang. Waktu pastiku untuk pulang hanya Lebaran saja. Selain itu, aku menunggu momen saat ada dinas ke Semarang atau ada urusan organisasi ke Jawa Tengah/Jogja.

Yah, total usiaku tinggal di luar rumah (18 tahun) lebih banyak dari usiaku tinggal di rumah (15 tahun), dan semakin hari akan semakin bertambah. Komunikasiku dengan keluarga di rumah paling sering hanya lewat telepon.  Betapa sedikitnya waktuku bersama mereka. Sejujurnya, aku agak jarang berkomunikasi secara mendalam dengan keluarga. Lebih dari itu aku tidak terbiasa curhat dengan orang tua. Somehow, sebagai anak tertua aku selalu ingin memastikan ke mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak mau mereka terbebani dengan pikiran-pikiranku. Berbeda dengan dua adikku yang bisa ‘cair’ dengan Bapak dan Ibu, hubunganku dengan mereka relatif lebih formal. Mungkin juga karena terlanjur sedikitnya waktu untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Kadang aku berfikir, banyak kejadian entah senang atau sedih yang mereka jalani telah aku lewatkan, dan demikian juga sebaliknya.

Tapi, dan sekali lagi tapi, aku menyadari bahwa 15 tahun pertama itulah yang membentuk diriku saat ini. Bapak dan Ibu telah meletakkan dasar kepribadian yang menjadikan karakter seorang Dani Miftahul Akhyar sekarang. Dan sungguh aku bersyukur karenanya. Belum ada pelajaran hidup yang lebih meaningful yang kuterima selain dari kedua orang tuaku, Ibu dan Bapak. Walaupun mereka terkadang tidak pernah mengatakannya, tapi aku melihat dan belajar dari tindakan-tindakan mereka. Bahkan dari hal-hal remeh yang terjadi saat aku masih sangat kecil.

Kenangan-kenangan masa lalu melintas di ingatan, sekelebat-sekelebat saja karena banyak yang pupus dimakan waktu. Masa kecilku di daerah Genuk, di sebuah rumah kontrakan sederhana. Bapak Noor Salimi mulai merintis karir sebagai pegawai negeri. Sementara Ibu Umi Salamah sejak awal memang total sebagai ibu rumah tangga, mengurus kami bertiga hingga besar. Sebuah pilihan yang langka di jaman sekarang. Di masa itu aku teringat satu kisah kecil. Adikku Nila yang berusia di bawah setahun suka sekali mengacak-acak beras yang ditaruh ibu di sebuah peti kayu. Hal itu membuatku jengkel setengah mati. Kenapa? Karena pada akhirnya akulah yang disuruh Ibu untuk memunguti beras-beras yang tumpah berceceran di lantai. Karena terjadi berulangkali, suatu saat aku ngambek. Ibu marah, “Dadi bocah sing gedhe mbok yo ngalah karo sing luwih cilik”. Artinya jadi anak yang lebih besar seharusnya mengalah dengan adik yang lebih kecil. Jadilah aku memunguti beras-beras itu sambil menangis sesenggukan.

Mungkin karena itulah aku jadi agak jahil dengan adik-adikku. Aku sering menggoda atau ‘ngerjain’ mereka, karena mereka hampir selalu mendapat pembelaan dari Ibu. Aku kerap gemas dengan adik-adikku. Kalau mereka menangis, akulah yang sering kena cubit dan kembali dimarahi “Dadi sing luwih gedhe mbok yo ngalah karo sing luwih cilik”. Kata-kata itu membekas hingga kini, dan ketika kutahu maknanya, sungguh luar biasa kedalaman arti kalimat beliau. Petuah Ibu selaras dengan ajaran kepemimpinan dalam agama, yang berkuasa harus mengalah atau berpihak kepada wong cilik. Di jaman orang-orang berlomba mengejar kekuasaan seperti sekarang, kata mengalah terdengar sangat naïf. Mengalah berarti kalah, kalah akan terlibas habis. Kalau disikut ya harus menyikut balik. Tidak membalas akan makin diinjak-injak. Ini rasanya hidup di dunia yang tidak lagi humanis. Adigang, adigung, adiguna. Merasa pintar, merasa hebat, merasa berjasa. Mengalah, sebagai wujud terbaik dari cinta kasih sesama manusia, telah diajarkan oleh Ibu bahkan sejak aku belum bisa bicara mengerti apa maknanya.

Ketika tahun 1985 kami pindah ke daerah Gemah, kehidupan kami berangsur membaik. Bapak dan Ibu menanamkan pendidikan dengan cukup ketat, yang membuatku bisa sedikit berbangga dengan secuil prestasi di sekolah. Kurasakan tak sedikitpun waktu untuk lengah. Pagi sekolah umum, sore sekolah madrasah. Waktu bermainku sedikit. Hari Minggu menjadi penantianku untuk dolan atau bermain dengan teman sebaya di kampung. TAPI dengan satu syarat, yaitu setelah aku membantu Ibu membersihkan rumah dengan mencuci piring/gelas kotor, menyapu dan mengepel rumah, serta mencuci baju sendiri. Tidak boleh keluar rumah tanpa mengerjakan tugas-tugas itu. Oh, Tuhan… aku kesal sekali waktu itu. Mau main saja susahnya minta ampun. Memang hanya hari Minggu aturan membersihkan rumah diberlakukan, tapi aku sungguh jengkel. Aku iri dengan tetangga-tetangga yang punya pembantu rumah tangga. Mengapa tidak menyewa pembantu saja? Pernah aku ngambek seharian dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah itu.  Ibu tak bergeming, malah mengatakan, “Di rumah ini tidak ada raja dan tidak ada babu( baca:pembantu), semua sama bekerja. Selesaikan tugas dulu, baru boleh (mendapat hak) bermain. “

Sekali lagi, sebuah ungkapan sederhana dengan makna yang sangat dalam. Ibu memberi pelajaran tentang pemahaman tentang hak dan kewajiban. Dahulukan melaksanakan kewajiban, baru menuntut hak, dan bukan sebaliknya. Lakukan tugas dengan baik, baru kita berhak menuntut. Bukan seperti jaman sekarang, orang berlomba-lomba menuntut hak, dari mulai rakyat jelata hingga pejabat negara. Coba kita cermati, dari kecil kita sudah dicekoki dengan kata-kata ‘Hak Asasi’ tanpa dibarengi kata ‘Kewajiban Asasi’. Jadilah kata-kata hak menjadi raja di kepala kita dalam setiap waktu dan kesempatan kepada siapa saja. Dus, di luar pemaknaan itu, kebiasaanku bekerja di rumah membawa hikmah dalam kehidupanku setelah ‘lepas’ dari rumah. Aku jadi bisa mandiri; nyuci sendiri, setrika, beres-beres kos atau rumah, semua bisa dan biasa kulakukan sendiri.

Ya, nasihat-nasihat Ibu yang mengena di hati seringkali dilontarkan beliau saat marah waktu aku masih sekolah. Pernah suatu saat nilai-nilai pelajaranku agak hancur. Ibu marah dan berkata “Jangan terlena. Ingat, sesal kemudian tak berguna”. Sebuah pelajaran berharga untuk selalu ingat kepada Tuhan dan kewajiban. Hidup memang kadang membuat kita terlena, apalagi dengan yang enak-enak. Entah mengapa semua yang enak-enak membuat aku lupa diri. Seperti masalah kolesterol yang sekarang muncul, mungkin karena lupa menahan diri dalam hal makanan. Kalau sudah bermasalah, yang timbul hanya penyesalan. Kalau waspada sejak awal, walau tak enak, pasti hidup akan lebih indah di kemudian hari.

Satu lagi nasihat Ibu yang membekas dalam di hati, “kalau urusan harta, lihat ke bawah, tapi kalau urusan ilmu, lihat ke atas”. Aku lupa konteksnya apa waktu itu, sepertinya soal keirianku dengan teman sekelas di SMP yang kaya raya, segala macam punya dan dibelikan orang tuanya. Uang jajan pun melimpah. Sedangkan aku? Kuingat uang jajanku hanya Rp500 waktu itu (tahun 1990an), sementara rata-rata temanku di atas Rp 2000. Dari uang jajanku itu, Rp 200 untuk naik angkot pulang pergi. Rp 50 untuk bayar parkir sepeda, dan sisanya Rp 150 untuk jajan yang hanya cukup untuk beli nasi soto setengah ditambah tempe mendoan. Untuk minum aku bawa bekal dari rumah. Ibu telah mengajarkanku kesederhanaan, kebersahajaan. Berhemat untuk masa depan. Jangan iri dengan kekayaan, urusan rejeki itu Allah yang mengatur. Lihatlah ke ‘bawah’, kepada orang-orang tak punya yang butuh bantuan. Tapi kalau urusan ilmu, lihatlah ke ‘atas’… ke langit! Setinggi itulah ilmu harus dikejar…

Ah, Ibu, jika diingat-ingat kembali, betapa banyak tutur nasihatmu yang bernas. Kadang anakmu ini merindukan kembali masa-masa itu. Aku rindu dimarahi, dicubit pantat, dan dipukul dengan kemoceng. Aku rindu membersihkan rumah, rindu perintahmu untuk menyuruhku belajar, rindu dengan petuah-petuah yang pahit tapi benar dan bermakna. Ibu, maafkan anakmu yang jarang menyapa dan jarang pulang. Maafkan anakmu yang melewatkan berbagai peristiwa penting di rumah. Maafkan anak sulungmu ini yang tidak maksimal membimbing adik-adik. Ibu, terima kasih atas nasihat-nasihatmu...



Jumat, 10 Februari 2012

Dahsyatnya Mailing List

0 comments

Sampai sekarang saya masih salut dengan orang yang pertama kali mencetuskan inovasi membuat mailing list ini. Benar-benar brillian! Mailing list merupakan sebuah breakthrough dalam proses menjalin networking dalam sebuah komunitas. Hanya dengan bermodal alamat email, kita bisa ikut dalam sebuah komunitas virtual yang anggotanya bisa mencapai ratusan atau ribuan orang dari berbagai tempat di seluruh penjuru dunia. Sekali mengirim email ke mailing list, semua anggota akan menerima email tersebut secara serentak, tanpa harus kita menuliskan alamat email mereka satu per satu. Tanpa harus bertemu, kita bisa berdiskusi dengan semua anggota mailing list. Praktis bukan?
Dan saya menyambut ide menulis buku berisi kumpulan artikel tentang “Dahsyatnya Mailing List” dengan antusias. Kebetulan dua tahun terakhir ini banyak ‘keajaiban’ dalam hidup saya yang berujung pangkal dari mailing list yang saya ikuti. Jadi kalau dikatakan mailing list itu dahsyat, saya setuju sekali. Saat ini saya mengikuti lebih dari 10 mailing list dan mendapatkan manfaat cukup besar dari sana. Berikut adalah beberapa manfaat mailing list yang sudah saya rasakan.

Sarana Koordinasi Jarak Jauh
            Tanpa mailing list saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus mengorganisasikan panitia dan peserta reuni akbar 20 tahun SMA Taruna Nusantara pada bulan Juli 2010 lalu di Magelang. Sungguh, acara ini merupakan momentum penting yang ditunggu-tunggu oleh seluruh alumni yang berjumlah lebih dari 5000 orang dan tersebar di seluruh dunia. Sebagai Ketua Panitia yang berdomisili di Jakarta, saya harus mengkoordinasikan seluruh panitia yang berjumlah lebih dari 50 orang, sebagian besar berada di Jakarta dan Jogja, dan perwakilan dari 25 cabang di seluruh tanah air hingga luar negeri. Semua panitia berstatus part time alias nyambi mempersiapkan acara ini di sela-sela kesibukan menjalani kehidupan masing-masing.
            Untungnya ada mailing list duapuluhtahunsmatn@yahoogroups.com yang saya buat awal tahun 2010. Semua panitia saya minta ikut mailing list. Semua rencana saya beberkan secara lengkap dan detail melalui media ini, yang berharap dibaca dan dikomentari oleh anggota. Uniknya, mailing list ini baru ramai malam hari setelah jam kerja hingga larut malam. Untuk kasus-kasus yang pelik dan kompleks, barulah diadakan kopi darat. Itu pun tidak sering, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Hasilnya, saat puncak acara tanggal 17 Juli 2010, lebih dari 1500 alumni dari seluruh penjuru tanah air dan mancanegara hadir di Kampus Biru Magelang. Seorang pejabat yang hadir berkomentar, „Saya heran, bagaimana caranya kalian menggerakkan alumni dalam jumlah besar dalam waktu singkat, padahal kalau rapat panitia jumlahnya sedikit“. Jawab saya singkat, „Itulah dahsyatnya mailing list, pak...“

Tempat Penggodokan Ide
            Baru kali ini saya mengikuti mailing list yang ‚hot’ banget. Diskusinya berat dan berbobot, karena menyangkut pertahanan dan keamanan nasional. Para anggotanya juga tidak main-main, yaitu para perwira TNI dan Polisi dan peminat pertahanan nasional yang cakap di bidangnya masing-masing (ada pengusaha, pegawai swasta, dosen, dan lain-lain). Inilah mailing list tandef@googlegroups.com yang saya telah saya ikuti selama dua tahun. TANDEF singkatan dari Think and Act for National Defense, yaitu sebuah organisasi informal bagi para pengamat dan pengkaji masalah-masalah ketahanan nasional. Munculnya berbagai kasus ketahanan nasional seperti polemik perbatasan laut dengan Malaysia telah memicu diskusi yang cukup panas. Setiap anggota mengemukakan pendapat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Seringkali muncul ide ‚gila’ yang tak terfikirkan sebelumnya. Saya teringat teori „Medici Effect“ yaitu tentang proses munculnya sebuah inovasi yang berasal dari perpaduan berbagai bidang ilmu. Dan saya menyelami proses Medici Effect yang luar biasa dari mailing list ini.

Alat Menjalin Social Networking
            Dua tahun yang lalu, saya ingat pernah membayangkan wajah beberapa teman SD dan SMP saya di Semarang dulu. Seperti apa mereka sekarang? Bagaimana kabar mereka? Setelah lulus SMP tahun 1994, saya sudah hilang kontak dengan teman-teman SD dan SMP karena melanjutkan SMA di kota yang berbeda.
            Tetapi, sekitar bulan Agustus 2009 terjadi peristiwa yang tidak diduga. Melalui jejaring social Facebook, tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman SMP. Kami bertukar kabar via email atau chatting, dan sepakat untuk mengumpulkan kembali teman-teman SMP seangkatan yang menghilang. Caranya adalah mencari melalui berbagai situs social networking, dan kemudian kita undang bergabung ke mailing list alumnimulo@yahoogroups.com. Dalam satu bulan, jumlah yang tergabung dalam mailing list meningkat dari awalnya hanya dua orang menjadi sekitar 30 orang, hingga pada bulan September 2009 kita dapat mengadakan halal bi halal pasca Idul Fitri di Semarang. Dan sekarang, anggota mailing list ini telah bertambah tiga kali lipat menjadi sekitar 120 orang. Proses penambahan anggota ini begitu cepat bahkan sampai saya tidak lagi bisa melacak siapa yang ‚menemukan’ siapa karena semua sudah berada dalam sistem networking yang bergulir secara otomatis.  

Menikmati Tips yang Bermanfaat 
            Awal Agustus 2010 saya berkesempatan mengunjungi Eropa dalam waktu dua minggu. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini, dan bertekad memaksimalkan waktu di sana dengan mengunjungi kota-kota di Eropa sebanyak mungkin. Apa yang saya lakukan? Saya kontak ke sepuluh jaringan mailing list yang saya ikuti. Saya minta referensi objek wisata yang menarik, hotel dan transportasi yang murah, tempat makan yang enak dan halal, tempat beli souvenir yang murah meriah, dan sebagainya. Banyak sekali tips dan masukan yang saya dapat, tinggal saya pilah dan pilih sesuai jadwal perjalanan saya. Hasilnya, dalam dua minggu saya dapat mengunjungi lima negara dan 10 kota dengan biaya yang hemat karena tidak perlu memakai jasa agen wisata. Semuanya cukup berbekal tips dari mailing list saja.
            Jika diingat, banyak sekali tips-tips atau informasi umum yang beredar di mailing list. Misalnya: tips seputar kesehatan, perkawinan, olahraga, makanan/kuliner, jalan-jalan, dan sebagainya. Banyak diantara tips ini yag bersifat hoax (menipu), tetapi tidak sedikit yang ditulis secara serius dan memang benar-benar bermanfaat bagi pembacanya.

Menjaga Semangat Kolektif
            Kalau ini, saya merasakan manfaatnya dari mailing list profec_authors_club@yahoogroups.com. Saya bergabung dengan mailing PROFEC setelah mengikuti Pelatihan 12 PAS yang diselenggarakan oleh Pak Dodi Mawardi. Setelah pelatihan itu, secara konsisten Pak Dodi mengirim email ke mailing list yang berisi kalimat-kalimat yang memotivasi saya dan rekan-rekan yang belum juga menerbitkan buku yang diidam-idamkan. Beberapa kali Ibu Lies dan Pak Johanes Arifin juga memberikan energizing dengan untaian-untaian kata yang menggugah semangat. Hingga akhirnya awal bulan Juli 2010 lalu, buku saya yang pertama akhirnya terbit. Buku hasil kolaborasi dengan sang mentor, Pak Dodi Mawardi, yang tekun memanfaatkan mailing list PROFEC untuk menebar ilmu dan motivasi.
Akhir kata, Selamat Ulang Tahun untuk PROFEC, semoga di usia yang ke-5 dapat terus membawa cahaya yang mampu menerangi kita dari gelapnya kebodohan...


*tulisan ini dicetak di buku Dahsyatnya Mailing List, diterbitkan oleh PROFEC 2011

Kamis, 09 Februari 2012

You Are

0 comments
Sometimes I try to count the ways and reasons that I love youBut I can never seem to count that farI love you in a million ways and for a million reasonsBut more than this I love you as you areMore than this I love you just as you are
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
You are my thoughts when I'm awake, and my dreams when I'm asleepYou are the reason for my smile, you are the words I speakEvery role I play in life you play the leading partEv'rything I'll ever want or need, is what you areThe only one I'l ever want for me, that's what you are[ From: http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html ]
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I ever had in mind, is what you areThe only one I'l ever want for 'mine', that's what you are
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
Ah, I love youAh, I love you just as you are
Ah, I love you, I love youAh

Read more: DOLLY PARTON - YOU ARE LYRICS http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html#ixzz1lqgRojb9
Copied from MetroLyrics.com 

Rabu, 08 Februari 2012

15 tahun tnlima

0 comments













From home base of the Tidar Valley... we should walk on the right way...
We have to work for our great country!










15 tahun TNLIMA, berkumpul bersama di Balai Kartini Gatsu Jakarta. Hampir 130 orang hadir, lebih dari separuh angkatan. Sebuah rekor reuni angkatan yang sebelumnya belum pernah mencapai sejumlah ini. Bukan apa2, bukan gaya2an, tujuannya semoga bisa memberi inspirasi bagi yang lain utk re-gather dan bersinergi, minimal dengan rekan satu angkatan sendiri!


Selasa, 31 Januari 2012

Leiden is Lijden

0 comments
Senang dapat kosakata baru hari ini. Tertulis sebuah artikel di harian Kompas oleh Mas Yudi Latif. Judulnya sperti terlihat di gambar. Yang menarik adalah kalimat pertamanya "leiden is lijden" --memimpin adalah menderita, yang ternyata kutipan bijak dari H. Agus Salim, pahlawan nasional kita.

Apa yang menarik? Pertama, saya baru tahu ternyata kata Leiden itu artinya memimpin atau to lead. Sejauh ini saya tahu leiden adalah bahasa Belanda dan nama salah satu universitas tertua dan terkemuka di sana.

Kedua, kalimat itu mempunyai rima yang bagus, masing-masing kata (leiden & lijden) berakhiran dengan 'den'. Jadi terdengar puitis, dan diciptakan oleh orang Indonesia, bukan orang Belanda. Hebat betul Pak Haji Agusalim ini. Kalimat yang diucapkannya indah dan bermakna. Tidak sembarang orang bisa mencipta kata seperti itu.

Ketiga, arti kalimat itu menohok sekali. Saya mengenal sebelumnya istilah "pemimpin adalah pribadi yang dikorbankan", pertama mendengar waktu SMA. Saat tubuh lelah dan keringat tak kunjung kering mengikuti napak tilas rute Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Pacitan, sekitar tahun 1994, terbayang betapa beban dan derita dipikul oleh sang Jenderal puluhan tahun lalu, yang seolah tak dirasakan karena besarnya tanggung jawab dan amanah terhadap negeri. Raganya terkorbankan beberapa tahun kemudian setelah ibukota lepas dari marabahaya. Cerita Bung Karno lebih miris lagi. Konon sampai meninggal beliau tidak meninggalkan warisan rumah untuk anak-anaknya. Pemimpin dunia yang lain juga banyak memberi contoh. Kesederhanaan Mahatma gandhi dan Ibu Teresa dikenal di seluruh dunia. Pun penderitaan para nabi dan rasul yang menjadi pelajaran bagi hidup manusia.

Keempat, menarik karena ironinya dengan kondisi saat ini. Seperti ditulis mas Yudi, pemimpin sekarang mana ada yang menderita? Pejabat sekarang mah enak, ongkang-ongkang kaki terima duit setoran dari bawahannya. Rakyat yang makin lama makin menderita, bahan pokok serba makin mahal, cari makan susah, nyekolahin anak mahal, keamanan pun tak 100% terjamin. Apakah bangsa ini zonder pemerintah? Nggak juga, pemerintah ada, tapi ya itu tadi, tidak merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Sudah duduk enak jadi lupa berdiri.


  

Senin, 30 Januari 2012

Ditipu Foto

0 comments
Coba anda perhatikan gambar disamping. Tanpa membaca artikel/beritanya, kira-kira apa kesan anda terhadap foto tersebut? Dua orang paling berpengaruh di republik ini dengan postur dan bahasa tubuh seperti itu?

Yak, ketika saya ngetwit gambar ini, banyak yang bilang: kedua orang itu terkesan mau gelut alias berantem. Tapi itulah gambar yang dicetak di sebuah harian ibukota seminggu yang lalu. Media cetak ini emang cenderung beroposisi dengan pemerintah. Padahal, di era 5 tahun pertama SBY media ini termasuk yang pro, sehingga agak bosen waktu itu membacanya. Tidak tahu alasannya mengapa owner media cetak ini lalu berubah haluan menjadi kontra, mungkin merasa nggak kebagian kue atau bagaimana. Akhirnya ia mendirikan ormas dan belakangan menjadi parpol.

Kalau dilihat kenyataannya, agak aneh kalau RI-1 dan TNI-1 mau gelut di depan publik seperti terlihat di foto. Lha wong TNI-1 itu tunduk ke RI-1 kok, mana bisa menantang atasannya? Tapi itulah kejelian si tukang jepret, bisa saja mengambil moment langka seperti ini yang menjadi kesukaan editor koran tersebut.

Seorang anak muda bertanya sama saya, "pak, foto itu emang sengaja dipasang oleh koran itu sebagai agenda setting, kah?". Saya jawab, "kemungkinan it pasti ada, namanya juga korang yang cenderung berseberangan dengan pemerintah." So, itulah bahayanya jika media digunakan sebagai corong politik orang/kelompok tertentu. Tidak ada yang benar-benar independen dalam jurnalisme.


Followers

 

Dani Miftahul Akhyar. Copyright 2011 All Rights Reserved Free Wordpress Templates by Brian Gardner Blogger Templates presents HD TV Fringe Streaming. Featured on Wedding Photographers Singapore.