Dik Andi memposting kalimat bijak ini di FB-nya tanggal 5 Feb yang lalu. Semakin saya renungkan, semakin saya menyadari betapa besar rahmatNYA, dan sungguh menumbuhkan motivasi dari dalam diri.
"Allah menjawab doa kita dengan 3 jalan. Pertama, mengabulkan apa yang kita minta. Kedua, tidak mengabulkan apa yang kita minta, tetapi memberinya yang lebih baik. ketiga,menunda untuk mengabulkan doa kita dan memberinya di waktu yang sangat tepat. Jadi teruslah berdoa,jangan pernah berpikir Allah tidak mendengar doa kita!! "
Rabu, 15 Februari 2012
Senin, 13 Februari 2012
Aku dan Nasihat-nasihat Ibu...
Hari ini memang bukan hari Ibu, tapi aku ingin sekali menulis tentang Ibu...
Lulus SMA, aku bahkan
tak sempat pulang dulu karena harus mengejar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(UMPTN) di Bandung. Dan hari-hari berlalu dengan melewati masa sebagai
mahasiswa di Bandung. Selama itu, aku juga pulang tiap habis semesteran saja,
rata-rata enam bulan sekali. Aku pulang agak panjang saat libur Lebaran. Itu
pun lebih banyak ‘molor’ di rumah, balas dendam dengan malam-malam panjang
bergadang menyelesaikan tugas-tugas praktikum yang mencekam. Tak terasa lima tahun berlalu, dan
selama itu hanya dua kali aku disambangi keluarga. Pertama saat tingkat dua,
dan terakhir waktu wisuda. Segala tetek bengek urusan nge-kos dan kehidupan
perkuliahan aku urus sendiri. Masa-masa pergeseran keremajaan dan pendewasaan
aku lalui dengan caraku sendiri, dengan teman-teman, berkutat di antara unit-unit
kegiatan dalam dan luar kampus.
Tak banyak waktu setelah lulus karena aku harus segera
bekerja dan kini nasib mengantarku ke Jakarta. Sungguh, awalnya tak pernah aku
bermimpi akan hidup di kota metropolis ini. Saat masih mahasiswa, beberapa kali
aku berkesempatan datang ke Jakarta dan langsung jengah. Kota ini lebih jahat
dari kota-kota lain, lebih cepat, lebih kasar, segala sesuatu grusa-grusu (terburu-buru), dan menuntut
kewaspadaan. Toh, nyatanya aku bertahan hingga lebih dari 8 tahun cari makan di
sini, bahkan memutuskan untuk membeli sebuah rumah cilik dan hidup dengan
istriku di pinggiran kota Jakarta. Kami berdua sama-sama bekerja, jadi makin
sedikit saja waktuku untuk pulang ke Semarang. Waktu pastiku untuk pulang hanya
Lebaran saja. Selain itu, aku menunggu momen saat ada dinas ke Semarang atau
ada urusan organisasi ke Jawa Tengah/Jogja.
Yah, total usiaku tinggal di luar rumah (18 tahun) lebih
banyak dari usiaku tinggal di rumah (15 tahun), dan semakin hari akan semakin
bertambah. Komunikasiku dengan keluarga di rumah paling sering hanya lewat
telepon. Betapa sedikitnya waktuku
bersama mereka. Sejujurnya, aku agak jarang berkomunikasi secara mendalam
dengan keluarga. Lebih dari itu aku tidak terbiasa curhat dengan orang tua. Somehow, sebagai anak tertua aku selalu
ingin memastikan ke mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak mau mereka
terbebani dengan pikiran-pikiranku. Berbeda dengan dua adikku yang bisa ‘cair’
dengan Bapak dan Ibu, hubunganku dengan mereka relatif lebih formal. Mungkin
juga karena terlanjur sedikitnya waktu untuk berinteraksi langsung dengan
mereka. Kadang aku berfikir, banyak kejadian entah senang atau sedih yang
mereka jalani telah aku lewatkan, dan demikian juga sebaliknya.
Tapi, dan sekali lagi tapi, aku menyadari bahwa 15 tahun
pertama itulah yang membentuk diriku saat ini. Bapak dan Ibu telah meletakkan
dasar kepribadian yang menjadikan karakter seorang Dani Miftahul Akhyar
sekarang. Dan sungguh aku bersyukur karenanya. Belum ada pelajaran hidup yang
lebih meaningful yang kuterima selain
dari kedua orang tuaku, Ibu dan Bapak. Walaupun mereka terkadang tidak pernah
mengatakannya, tapi aku melihat dan belajar dari tindakan-tindakan mereka.
Bahkan dari hal-hal remeh yang terjadi saat aku masih sangat kecil.
Kenangan-kenangan masa lalu melintas di ingatan,
sekelebat-sekelebat saja karena banyak yang pupus dimakan waktu. Masa kecilku
di daerah Genuk, di sebuah rumah kontrakan sederhana. Bapak Noor Salimi mulai
merintis karir sebagai pegawai negeri. Sementara Ibu Umi Salamah sejak awal
memang total sebagai ibu rumah tangga, mengurus kami bertiga hingga besar.
Sebuah pilihan yang langka di jaman sekarang. Di masa itu aku teringat satu
kisah kecil. Adikku Nila yang berusia di bawah setahun suka sekali
mengacak-acak beras yang ditaruh ibu di sebuah peti kayu. Hal itu membuatku
jengkel setengah mati. Kenapa? Karena pada akhirnya akulah yang disuruh Ibu
untuk memunguti beras-beras yang tumpah berceceran di lantai. Karena terjadi
berulangkali, suatu saat aku ngambek. Ibu marah, “Dadi bocah sing gedhe mbok yo ngalah karo sing luwih cilik”.
Artinya jadi anak yang lebih besar seharusnya mengalah dengan adik yang lebih
kecil. Jadilah aku memunguti beras-beras itu sambil menangis sesenggukan.
Mungkin karena itulah aku jadi agak jahil dengan
adik-adikku. Aku sering menggoda atau ‘ngerjain’ mereka, karena mereka hampir
selalu mendapat pembelaan dari Ibu. Aku kerap gemas dengan adik-adikku. Kalau
mereka menangis, akulah yang sering kena cubit dan kembali dimarahi “Dadi sing luwih gedhe mbok yo ngalah karo
sing luwih cilik”. Kata-kata itu membekas hingga kini, dan ketika kutahu
maknanya, sungguh luar biasa kedalaman arti kalimat beliau. Petuah Ibu selaras
dengan ajaran kepemimpinan dalam agama, yang berkuasa harus mengalah atau
berpihak kepada wong cilik. Di jaman
orang-orang berlomba mengejar kekuasaan seperti sekarang, kata mengalah
terdengar sangat naïf. Mengalah berarti kalah, kalah akan terlibas habis. Kalau
disikut ya harus menyikut balik. Tidak membalas akan makin diinjak-injak. Ini
rasanya hidup di dunia yang tidak lagi humanis. Adigang, adigung, adiguna. Merasa pintar, merasa hebat, merasa
berjasa. Mengalah, sebagai wujud terbaik dari cinta kasih sesama manusia, telah
diajarkan oleh Ibu bahkan sejak aku belum bisa bicara mengerti apa maknanya.
Ketika tahun 1985 kami pindah ke daerah Gemah, kehidupan
kami berangsur membaik. Bapak dan Ibu menanamkan pendidikan dengan cukup ketat,
yang membuatku bisa sedikit berbangga dengan secuil prestasi di sekolah.
Kurasakan tak sedikitpun waktu untuk lengah. Pagi sekolah umum, sore sekolah
madrasah. Waktu bermainku sedikit. Hari Minggu menjadi penantianku untuk dolan atau bermain dengan teman sebaya
di kampung. TAPI dengan satu syarat, yaitu setelah aku membantu Ibu
membersihkan rumah dengan mencuci piring/gelas kotor, menyapu dan mengepel
rumah, serta mencuci baju sendiri. Tidak boleh keluar rumah tanpa mengerjakan
tugas-tugas itu. Oh, Tuhan… aku kesal sekali waktu itu. Mau main saja susahnya
minta ampun. Memang hanya hari Minggu aturan membersihkan rumah diberlakukan,
tapi aku sungguh jengkel. Aku iri dengan tetangga-tetangga yang punya pembantu rumah
tangga. Mengapa tidak menyewa pembantu saja? Pernah aku ngambek seharian dan
tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah itu.
Ibu tak bergeming, malah mengatakan, “Di rumah ini tidak ada raja dan
tidak ada babu( baca:pembantu), semua
sama bekerja. Selesaikan tugas dulu, baru boleh (mendapat hak) bermain. “
Sekali lagi, sebuah ungkapan sederhana dengan makna yang sangat dalam. Ibu memberi pelajaran tentang pemahaman tentang hak dan kewajiban. Dahulukan melaksanakan kewajiban, baru menuntut hak, dan bukan sebaliknya. Lakukan tugas dengan baik, baru kita berhak menuntut. Bukan seperti jaman sekarang, orang berlomba-lomba menuntut hak, dari mulai rakyat jelata hingga pejabat negara. Coba kita cermati, dari kecil kita sudah dicekoki dengan kata-kata ‘Hak Asasi’ tanpa dibarengi kata ‘Kewajiban Asasi’. Jadilah kata-kata hak menjadi raja di kepala kita dalam setiap waktu dan kesempatan kepada siapa saja. Dus, di luar pemaknaan itu, kebiasaanku bekerja di rumah membawa hikmah dalam kehidupanku setelah ‘lepas’ dari rumah. Aku jadi bisa mandiri; nyuci sendiri, setrika, beres-beres kos atau rumah, semua bisa dan biasa kulakukan sendiri.
Ya, nasihat-nasihat Ibu yang mengena di hati seringkali
dilontarkan beliau saat marah waktu aku masih sekolah. Pernah suatu saat
nilai-nilai pelajaranku agak hancur. Ibu marah dan berkata “Jangan terlena.
Ingat, sesal kemudian tak berguna”. Sebuah pelajaran berharga untuk selalu
ingat kepada Tuhan dan kewajiban. Hidup memang kadang membuat kita terlena,
apalagi dengan yang enak-enak. Entah mengapa semua yang enak-enak membuat aku
lupa diri. Seperti masalah kolesterol yang sekarang muncul, mungkin karena lupa
menahan diri dalam hal makanan. Kalau sudah bermasalah, yang timbul hanya
penyesalan. Kalau waspada sejak awal, walau tak enak, pasti hidup akan lebih
indah di kemudian hari.
Satu lagi nasihat Ibu yang membekas dalam di hati, “kalau urusan harta, lihat ke bawah, tapi kalau urusan ilmu, lihat ke atas”. Aku lupa konteksnya apa waktu itu, sepertinya soal keirianku dengan teman sekelas di SMP yang kaya raya, segala macam punya dan dibelikan orang tuanya. Uang jajan pun melimpah. Sedangkan aku? Kuingat uang jajanku hanya Rp500 waktu itu (tahun 1990an), sementara rata-rata temanku di atas Rp 2000. Dari uang jajanku itu, Rp 200 untuk naik angkot pulang pergi. Rp 50 untuk bayar parkir sepeda, dan sisanya Rp 150 untuk jajan yang hanya cukup untuk beli nasi soto setengah ditambah tempe mendoan. Untuk minum aku bawa bekal dari rumah. Ibu telah mengajarkanku kesederhanaan, kebersahajaan. Berhemat untuk masa depan. Jangan iri dengan kekayaan, urusan rejeki itu Allah yang mengatur. Lihatlah ke ‘bawah’, kepada orang-orang tak punya yang butuh bantuan. Tapi kalau urusan ilmu, lihatlah ke ‘atas’… ke langit! Setinggi itulah ilmu harus dikejar…
Ah, Ibu, jika diingat-ingat kembali, betapa banyak tutur nasihatmu yang bernas. Kadang anakmu ini merindukan kembali masa-masa itu. Aku
rindu dimarahi, dicubit pantat, dan dipukul dengan kemoceng. Aku rindu
membersihkan rumah, rindu perintahmu untuk menyuruhku belajar, rindu
dengan petuah-petuah yang pahit tapi benar dan bermakna. Ibu, maafkan anakmu
yang jarang menyapa dan jarang pulang. Maafkan anakmu yang melewatkan berbagai
peristiwa penting di rumah. Maafkan anak sulungmu ini yang tidak maksimal
membimbing adik-adik. Ibu, terima kasih atas nasihat-nasihatmu...
Jumat, 10 Februari 2012
Dahsyatnya Mailing List
Sampai sekarang
saya masih salut dengan orang yang pertama kali mencetuskan inovasi membuat mailing list ini. Benar-benar brillian! Mailing list merupakan sebuah breakthrough dalam proses menjalin networking dalam sebuah komunitas. Hanya
dengan bermodal alamat email, kita bisa ikut dalam sebuah komunitas virtual
yang anggotanya bisa mencapai ratusan atau ribuan orang dari berbagai tempat di
seluruh penjuru dunia. Sekali mengirim email ke mailing list, semua anggota akan menerima email tersebut secara
serentak, tanpa harus kita menuliskan alamat email mereka satu per satu. Tanpa harus bertemu, kita bisa berdiskusi
dengan semua anggota mailing list. Praktis
bukan?
Dan saya menyambut ide menulis buku berisi kumpulan
artikel tentang “Dahsyatnya Mailing List” dengan antusias. Kebetulan dua
tahun terakhir ini banyak ‘keajaiban’ dalam hidup saya yang berujung pangkal
dari mailing list yang saya ikuti. Jadi kalau dikatakan mailing list itu dahsyat, saya setuju sekali. Saat ini saya
mengikuti lebih dari 10 mailing list dan mendapatkan manfaat cukup besar dari
sana. Berikut adalah beberapa manfaat mailing
list yang sudah saya rasakan.
Sarana Koordinasi Jarak Jauh
Tanpa mailing list saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus
mengorganisasikan panitia dan peserta reuni akbar 20 tahun SMA Taruna Nusantara
pada bulan Juli 2010 lalu di Magelang. Sungguh, acara ini merupakan momentum
penting yang ditunggu-tunggu oleh seluruh alumni yang berjumlah lebih dari 5000
orang dan tersebar di seluruh dunia. Sebagai Ketua Panitia yang berdomisili di
Jakarta, saya harus mengkoordinasikan seluruh panitia yang berjumlah lebih dari
50 orang, sebagian besar berada di Jakarta dan Jogja, dan perwakilan dari 25
cabang di seluruh tanah air hingga luar negeri. Semua panitia berstatus part time alias nyambi mempersiapkan acara ini di sela-sela kesibukan menjalani
kehidupan masing-masing.
Untungnya
ada mailing list duapuluhtahunsmatn@yahoogroups.com
yang saya buat awal tahun 2010. Semua panitia saya minta ikut mailing list. Semua rencana saya
beberkan secara lengkap dan detail melalui media ini, yang berharap dibaca dan
dikomentari oleh anggota. Uniknya, mailing list ini baru ramai malam hari setelah
jam kerja hingga larut malam. Untuk kasus-kasus yang pelik dan kompleks,
barulah diadakan kopi darat. Itu pun tidak sering, jumlahnya bisa dihitung
dengan jari. Hasilnya, saat puncak acara tanggal 17 Juli 2010, lebih dari 1500
alumni dari seluruh penjuru tanah air dan mancanegara hadir di Kampus Biru
Magelang. Seorang pejabat yang hadir berkomentar, „Saya heran, bagaimana
caranya kalian menggerakkan alumni dalam jumlah besar dalam waktu singkat,
padahal kalau rapat panitia jumlahnya sedikit“. Jawab saya singkat, „Itulah
dahsyatnya mailing list, pak...“
Tempat Penggodokan Ide
Baru kali ini saya mengikuti mailing list
yang ‚hot’ banget. Diskusinya berat
dan berbobot, karena menyangkut pertahanan dan keamanan nasional. Para
anggotanya juga tidak main-main, yaitu para perwira TNI dan Polisi dan peminat pertahanan
nasional yang cakap di bidangnya masing-masing (ada pengusaha, pegawai swasta,
dosen, dan lain-lain). Inilah mailing
list tandef@googlegroups.com yang saya telah saya ikuti
selama dua tahun. TANDEF singkatan dari Think
and Act for National Defense, yaitu sebuah organisasi informal bagi para
pengamat dan pengkaji masalah-masalah ketahanan nasional. Munculnya berbagai
kasus ketahanan nasional seperti polemik perbatasan laut dengan Malaysia telah
memicu diskusi yang cukup panas. Setiap
anggota mengemukakan pendapat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Seringkali
muncul ide ‚gila’ yang tak terfikirkan sebelumnya. Saya teringat teori „Medici
Effect“ yaitu tentang proses munculnya sebuah inovasi yang berasal dari
perpaduan berbagai bidang ilmu. Dan saya menyelami proses Medici Effect
yang luar biasa dari mailing list
ini.
Alat Menjalin Social Networking
Dua
tahun yang lalu, saya ingat pernah membayangkan wajah beberapa teman SD dan SMP
saya di Semarang dulu. Seperti apa mereka sekarang? Bagaimana kabar mereka?
Setelah lulus SMP tahun 1994, saya sudah hilang kontak dengan teman-teman SD
dan SMP karena melanjutkan SMA di kota yang berbeda.
Tetapi,
sekitar bulan Agustus 2009 terjadi peristiwa yang tidak diduga. Melalui
jejaring social Facebook, tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman SMP. Kami bertukar kabar via email atau chatting, dan sepakat untuk mengumpulkan
kembali teman-teman SMP seangkatan yang menghilang. Caranya adalah
mencari melalui berbagai situs social
networking, dan kemudian kita undang bergabung ke mailing list alumnimulo@yahoogroups.com. Dalam satu bulan, jumlah
yang tergabung dalam mailing list
meningkat dari awalnya hanya dua orang menjadi sekitar 30 orang, hingga pada
bulan September 2009 kita dapat mengadakan halal bi halal pasca Idul Fitri di
Semarang. Dan sekarang, anggota mailing list ini telah bertambah tiga
kali lipat menjadi sekitar 120 orang. Proses penambahan anggota ini begitu
cepat bahkan sampai saya tidak lagi bisa melacak siapa yang ‚menemukan’ siapa
karena semua sudah berada dalam sistem networking
yang bergulir secara otomatis.
Menikmati Tips yang Bermanfaat
Awal Agustus 2010 saya
berkesempatan mengunjungi Eropa dalam waktu dua minggu. Saya tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan langka ini, dan bertekad memaksimalkan waktu di sana
dengan mengunjungi kota-kota di Eropa sebanyak mungkin. Apa yang saya
lakukan? Saya kontak ke sepuluh jaringan mailing
list yang saya ikuti. Saya minta referensi objek wisata yang menarik, hotel
dan transportasi yang murah, tempat makan yang enak dan halal, tempat beli
souvenir yang murah meriah, dan sebagainya. Banyak sekali tips dan masukan yang
saya dapat, tinggal saya pilah dan pilih sesuai jadwal perjalanan saya. Hasilnya,
dalam dua minggu saya dapat mengunjungi lima negara dan 10 kota dengan biaya
yang hemat karena tidak perlu memakai jasa agen wisata. Semuanya cukup berbekal
tips dari mailing list saja.
Jika
diingat, banyak sekali tips-tips atau informasi umum yang beredar di mailing list. Misalnya: tips seputar
kesehatan, perkawinan, olahraga, makanan/kuliner, jalan-jalan, dan sebagainya. Banyak
diantara tips ini yag bersifat hoax
(menipu), tetapi tidak sedikit yang ditulis secara serius dan memang
benar-benar bermanfaat bagi pembacanya.
Menjaga Semangat Kolektif
Kalau
ini, saya merasakan manfaatnya dari mailing
list profec_authors_club@yahoogroups.com. Saya bergabung dengan mailing PROFEC
setelah mengikuti Pelatihan 12 PAS yang diselenggarakan oleh Pak Dodi Mawardi.
Setelah pelatihan itu, secara konsisten Pak Dodi mengirim email ke mailing list yang berisi kalimat-kalimat
yang memotivasi saya dan rekan-rekan yang belum juga menerbitkan buku yang
diidam-idamkan. Beberapa kali Ibu Lies dan Pak Johanes Arifin juga memberikan energizing dengan untaian-untaian kata
yang menggugah semangat. Hingga akhirnya awal bulan Juli 2010 lalu, buku saya
yang pertama akhirnya terbit. Buku hasil kolaborasi dengan sang mentor, Pak
Dodi Mawardi, yang tekun memanfaatkan mailing
list PROFEC untuk menebar ilmu dan motivasi.
Akhir kata, Selamat Ulang Tahun untuk PROFEC,
semoga di usia yang ke-5 dapat terus membawa cahaya yang mampu menerangi kita
dari gelapnya kebodohan...*tulisan ini dicetak di buku Dahsyatnya Mailing List, diterbitkan oleh PROFEC 2011
Kamis, 09 Februari 2012
You Are
Sometimes I try to count the ways and reasons that I love youBut I can never seem to count that farI love you in a million ways and for a million reasonsBut more than this I love you as you areMore than this I love you just as you are
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
You are my thoughts when I'm awake, and my dreams when I'm asleepYou are the reason for my smile, you are the words I speakEvery role I play in life you play the leading partEv'rything I'll ever want or need, is what you areThe only one I'l ever want for me, that's what you are[ From: http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html ]
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I ever had in mind, is what you areThe only one I'l ever want for 'mine', that's what you are
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
Ah, I love youAh, I love you just as you are
Ah, I love you, I love youAh
Read more: DOLLY PARTON - YOU ARE LYRICS http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html#ixzz1lqgRojb9
Copied from MetroLyrics.com
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
You are my thoughts when I'm awake, and my dreams when I'm asleepYou are the reason for my smile, you are the words I speakEvery role I play in life you play the leading partEv'rything I'll ever want or need, is what you areThe only one I'l ever want for me, that's what you are[ From: http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html ]
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I ever had in mind, is what you areThe only one I'l ever want for 'mine', that's what you are
You are my inspiration, you are the song I singYou are what makes me happy, you are my everythingYou are my daily sunshine, you are my ev'ning starEv'rything I'd ever hoped to find, that's what you areEv'rything I'll ever want for 'mine', is what you are
Ah, I love youAh, I love you just as you are
Ah, I love you, I love youAh
Read more: DOLLY PARTON - YOU ARE LYRICS http://www.metrolyrics.com/you-are-lyrics-dolly-parton.html#ixzz1lqgRojb9
Copied from MetroLyrics.com
Rabu, 08 Februari 2012
15 tahun tnlima
From home base of the Tidar Valley... we should walk on the right way...
We have to work for our great country!
15 tahun TNLIMA, berkumpul bersama di Balai Kartini Gatsu Jakarta. Hampir 130 orang hadir, lebih dari separuh angkatan. Sebuah rekor reuni angkatan yang sebelumnya belum pernah mencapai sejumlah ini. Bukan apa2, bukan gaya2an, tujuannya semoga bisa memberi inspirasi bagi yang lain utk re-gather dan bersinergi, minimal dengan rekan satu angkatan sendiri!
Selasa, 31 Januari 2012
Leiden is Lijden
Senang dapat kosakata baru hari ini. Tertulis sebuah artikel di harian Kompas oleh Mas Yudi Latif. Judulnya sperti terlihat di gambar. Yang menarik adalah kalimat pertamanya "leiden is lijden" --memimpin adalah menderita, yang ternyata kutipan bijak dari H. Agus Salim, pahlawan nasional kita.
Apa yang menarik? Pertama, saya baru tahu ternyata kata Leiden itu artinya memimpin atau to lead. Sejauh ini saya tahu leiden adalah bahasa Belanda dan nama salah satu universitas tertua dan terkemuka di sana.
Kedua, kalimat itu mempunyai rima yang bagus, masing-masing kata (leiden & lijden) berakhiran dengan 'den'. Jadi terdengar puitis, dan diciptakan oleh orang Indonesia, bukan orang Belanda. Hebat betul Pak Haji Agusalim ini. Kalimat yang diucapkannya indah dan bermakna. Tidak sembarang orang bisa mencipta kata seperti itu.
Ketiga, arti kalimat itu menohok sekali. Saya mengenal sebelumnya istilah "pemimpin adalah pribadi yang dikorbankan", pertama mendengar waktu SMA. Saat tubuh lelah dan keringat tak kunjung kering mengikuti napak tilas rute Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Pacitan, sekitar tahun 1994, terbayang betapa beban dan derita dipikul oleh sang Jenderal puluhan tahun lalu, yang seolah tak dirasakan karena besarnya tanggung jawab dan amanah terhadap negeri. Raganya terkorbankan beberapa tahun kemudian setelah ibukota lepas dari marabahaya. Cerita Bung Karno lebih miris lagi. Konon sampai meninggal beliau tidak meninggalkan warisan rumah untuk anak-anaknya. Pemimpin dunia yang lain juga banyak memberi contoh. Kesederhanaan Mahatma gandhi dan Ibu Teresa dikenal di seluruh dunia. Pun penderitaan para nabi dan rasul yang menjadi pelajaran bagi hidup manusia.
Keempat, menarik karena ironinya dengan kondisi saat ini. Seperti ditulis mas Yudi, pemimpin sekarang mana ada yang menderita? Pejabat sekarang mah enak, ongkang-ongkang kaki terima duit setoran dari bawahannya. Rakyat yang makin lama makin menderita, bahan pokok serba makin mahal, cari makan susah, nyekolahin anak mahal, keamanan pun tak 100% terjamin. Apakah bangsa ini zonder pemerintah? Nggak juga, pemerintah ada, tapi ya itu tadi, tidak merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Sudah duduk enak jadi lupa berdiri.
Apa yang menarik? Pertama, saya baru tahu ternyata kata Leiden itu artinya memimpin atau to lead. Sejauh ini saya tahu leiden adalah bahasa Belanda dan nama salah satu universitas tertua dan terkemuka di sana.
Kedua, kalimat itu mempunyai rima yang bagus, masing-masing kata (leiden & lijden) berakhiran dengan 'den'. Jadi terdengar puitis, dan diciptakan oleh orang Indonesia, bukan orang Belanda. Hebat betul Pak Haji Agusalim ini. Kalimat yang diucapkannya indah dan bermakna. Tidak sembarang orang bisa mencipta kata seperti itu.
Ketiga, arti kalimat itu menohok sekali. Saya mengenal sebelumnya istilah "pemimpin adalah pribadi yang dikorbankan", pertama mendengar waktu SMA. Saat tubuh lelah dan keringat tak kunjung kering mengikuti napak tilas rute Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Pacitan, sekitar tahun 1994, terbayang betapa beban dan derita dipikul oleh sang Jenderal puluhan tahun lalu, yang seolah tak dirasakan karena besarnya tanggung jawab dan amanah terhadap negeri. Raganya terkorbankan beberapa tahun kemudian setelah ibukota lepas dari marabahaya. Cerita Bung Karno lebih miris lagi. Konon sampai meninggal beliau tidak meninggalkan warisan rumah untuk anak-anaknya. Pemimpin dunia yang lain juga banyak memberi contoh. Kesederhanaan Mahatma gandhi dan Ibu Teresa dikenal di seluruh dunia. Pun penderitaan para nabi dan rasul yang menjadi pelajaran bagi hidup manusia.
Keempat, menarik karena ironinya dengan kondisi saat ini. Seperti ditulis mas Yudi, pemimpin sekarang mana ada yang menderita? Pejabat sekarang mah enak, ongkang-ongkang kaki terima duit setoran dari bawahannya. Rakyat yang makin lama makin menderita, bahan pokok serba makin mahal, cari makan susah, nyekolahin anak mahal, keamanan pun tak 100% terjamin. Apakah bangsa ini zonder pemerintah? Nggak juga, pemerintah ada, tapi ya itu tadi, tidak merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Sudah duduk enak jadi lupa berdiri.
Senin, 30 Januari 2012
Ditipu Foto
Coba anda perhatikan gambar disamping. Tanpa membaca artikel/beritanya, kira-kira apa kesan anda terhadap foto tersebut? Dua orang paling berpengaruh di republik ini dengan postur dan bahasa tubuh seperti itu?
Yak, ketika saya ngetwit gambar ini, banyak yang bilang: kedua orang itu terkesan mau gelut alias berantem. Tapi itulah gambar yang dicetak di sebuah harian ibukota seminggu yang lalu. Media cetak ini emang cenderung beroposisi dengan pemerintah. Padahal, di era 5 tahun pertama SBY media ini termasuk yang pro, sehingga agak bosen waktu itu membacanya. Tidak tahu alasannya mengapa owner media cetak ini lalu berubah haluan menjadi kontra, mungkin merasa nggak kebagian kue atau bagaimana. Akhirnya ia mendirikan ormas dan belakangan menjadi parpol.
Kalau dilihat kenyataannya, agak aneh kalau RI-1 dan TNI-1 mau gelut di depan publik seperti terlihat di foto. Lha wong TNI-1 itu tunduk ke RI-1 kok, mana bisa menantang atasannya? Tapi itulah kejelian si tukang jepret, bisa saja mengambil moment langka seperti ini yang menjadi kesukaan editor koran tersebut.
Seorang anak muda bertanya sama saya, "pak, foto itu emang sengaja dipasang oleh koran itu sebagai agenda setting, kah?". Saya jawab, "kemungkinan it pasti ada, namanya juga korang yang cenderung berseberangan dengan pemerintah." So, itulah bahayanya jika media digunakan sebagai corong politik orang/kelompok tertentu. Tidak ada yang benar-benar independen dalam jurnalisme.
Yak, ketika saya ngetwit gambar ini, banyak yang bilang: kedua orang itu terkesan mau gelut alias berantem. Tapi itulah gambar yang dicetak di sebuah harian ibukota seminggu yang lalu. Media cetak ini emang cenderung beroposisi dengan pemerintah. Padahal, di era 5 tahun pertama SBY media ini termasuk yang pro, sehingga agak bosen waktu itu membacanya. Tidak tahu alasannya mengapa owner media cetak ini lalu berubah haluan menjadi kontra, mungkin merasa nggak kebagian kue atau bagaimana. Akhirnya ia mendirikan ormas dan belakangan menjadi parpol.
Kalau dilihat kenyataannya, agak aneh kalau RI-1 dan TNI-1 mau gelut di depan publik seperti terlihat di foto. Lha wong TNI-1 itu tunduk ke RI-1 kok, mana bisa menantang atasannya? Tapi itulah kejelian si tukang jepret, bisa saja mengambil moment langka seperti ini yang menjadi kesukaan editor koran tersebut.
Seorang anak muda bertanya sama saya, "pak, foto itu emang sengaja dipasang oleh koran itu sebagai agenda setting, kah?". Saya jawab, "kemungkinan it pasti ada, namanya juga korang yang cenderung berseberangan dengan pemerintah." So, itulah bahayanya jika media digunakan sebagai corong politik orang/kelompok tertentu. Tidak ada yang benar-benar independen dalam jurnalisme.
Langgan:
Entri (Atom)








