Senang dapat kosakata baru hari ini. Tertulis sebuah artikel di harian Kompas oleh Mas Yudi Latif. Judulnya sperti terlihat di gambar. Yang menarik adalah kalimat pertamanya "leiden is lijden" --memimpin adalah menderita, yang ternyata kutipan bijak dari H. Agus Salim, pahlawan nasional kita.
Apa yang menarik? Pertama, saya baru tahu ternyata kata Leiden itu artinya memimpin atau to lead. Sejauh ini saya tahu leiden adalah bahasa Belanda dan nama salah satu universitas tertua dan terkemuka di sana.
Kedua, kalimat itu mempunyai rima yang bagus, masing-masing kata (leiden & lijden) berakhiran dengan 'den'. Jadi terdengar puitis, dan diciptakan oleh orang Indonesia, bukan orang Belanda. Hebat betul Pak Haji Agusalim ini. Kalimat yang diucapkannya indah dan bermakna. Tidak sembarang orang bisa mencipta kata seperti itu.
Ketiga, arti kalimat itu menohok sekali. Saya mengenal sebelumnya istilah "pemimpin adalah pribadi yang dikorbankan", pertama mendengar waktu SMA. Saat tubuh lelah dan keringat tak kunjung kering mengikuti napak tilas rute Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Pacitan, sekitar tahun 1994, terbayang betapa beban dan derita dipikul oleh sang Jenderal puluhan tahun lalu, yang seolah tak dirasakan karena besarnya tanggung jawab dan amanah terhadap negeri. Raganya terkorbankan beberapa tahun kemudian setelah ibukota lepas dari marabahaya. Cerita Bung Karno lebih miris lagi. Konon sampai meninggal beliau tidak meninggalkan warisan rumah untuk anak-anaknya. Pemimpin dunia yang lain juga banyak memberi contoh. Kesederhanaan Mahatma gandhi dan Ibu Teresa dikenal di seluruh dunia. Pun penderitaan para nabi dan rasul yang menjadi pelajaran bagi hidup manusia.
Keempat, menarik karena ironinya dengan kondisi saat ini. Seperti ditulis mas Yudi, pemimpin sekarang mana ada yang menderita? Pejabat sekarang mah enak, ongkang-ongkang kaki terima duit setoran dari bawahannya. Rakyat yang makin lama makin menderita, bahan pokok serba makin mahal, cari makan susah, nyekolahin anak mahal, keamanan pun tak 100% terjamin. Apakah bangsa ini zonder pemerintah? Nggak juga, pemerintah ada, tapi ya itu tadi, tidak merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Sudah duduk enak jadi lupa berdiri.
Selasa, 31 Januari 2012
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 comments:
Poskan Komentar