Namanya orang lagi bejo alias beruntung, ada saja jalan tak terduga yang mengantarkan sampai ke tujuan. Begitulah kami bertiga, saya, Mas Dodie (paling kiri megang garpu), dan Mas Syawal. Jumat 20 Jan 12 kami berangkat sholat Jumat ke Mesjid di kompleks kementerian BUMN dengan harapan bertemu Menteri Dahlan Iskan yang biasanya melayani doorstop wartawan setelah sholat Jumat. Apa lacur, yang ditunggu-tunggu tak datang jua. Di deretan shof depan tak nampang sosok beliau.
Pupus sudah harapan. Yang paling kecewa tentu saja Mas Dodie yang ngefans bener ama Menteri yang satu ini. Mas Dodie lah yang tadi pagi BBM saya tentang jadwal acara Pak Dahlan seharian Jumat ini. Dapet dari wartawan, katanya. Setelah akhir tahun lalu sukses mencium tangan Pak Dahlan, dengan tekad membara setelah sholat Jumat, kali ini ia bertekad minta nasihat hidup. Tapi sekali lagi, yang ditunggu tak kunjung datang. Ya sudahlah, makan sate pinggir jalan saja, katanya.
Ketika keluar dari mesjid, entah mengapa seolah ada angin yang mendorong badan menuju kantin di belakang kompleks gedung kementerian ini. Mau duduk di kursi depan, tak jadi karena Mas Syawal mengajak ke dalam. Dan inilah yang namanya keberuntungan. Sosok Pak Dahlan yang dicari tiba-tiba di depan mata, sedang duduk di pojok kantin bersama staf humas beliau lahap menikmati sop daging + nasi putih (lihat foto di tengah). Serta merta Mas Dodie menghampiri dan salaman. Tak ada cium tangan, mungkin karena posisi tidak memungkinkan. Yang melihat senyum-senyum saja. Sebentar kemudian para wartawan datang untuk wawancara. Ya sudah kami makan di meja sebelah dan 'nguping' saja pembicaraan mereka. "Ini menteri cuek banget ya makan di kantin, kayaknya gak pernah ada deh menteri-menteri sebelumnya yang kesini", celoteh orang-orang di meja saya. Tak saya pedulikan, karena pembicaraan di meja utama lebih menarik, walaupun suaranya tak seberapa jelas terdengar.
Pertanyaan pertama yang saya dengar, apa kebijakan Pak Dahlan tentang BUMN-BUMN bermasalah. Jawab beliau, harus ada komitmen kuat untuk cari solusi perbaiki diri, kalau nggak mau ya tutup saja!! Simpel dan tegas, plus logis dari sisi bisnis. Saya langsung teringat kisah PT Merpati Nusantara yang mindsetnya 'diobrak-abrik' beliau beberapa waktu lalu. "Tutup saja Merpati, duitnya beliin kebun sawit dan bagikan ke semua karyawan masing-masing dapat 2 hektar", ujarnya saat itu. Pernyataan out-of-the-box yang saya kebayang bikin jantung manajemen Merpati hampir copot hehehe...
Dasar mantan Dirut PLN, saat ditanya listrik beliau gahar membahas. Defisit listrik 4000Megawatt akan segera dipenuhi begitu Pembangkit di Lontar kelar dengan kapasitas 10ribu Megawatt. Jangan khwatir katanya. Diskusi berlanjut membahas hal-hal lain. "Nggak ada yang nanya tentang Nazarudin, nih?", ujar beliau nantangin wartawan. Lalu diskusi menarik tentang kereta api yang akhir-akhir ini tambah kacau jadwal perjalanannya (terutama KRL loopline Jabodetabek). Jawab beliau sambil menghela nafas, "Jadi manajemen PT KAI sekarang sedang berupaya mengubah mindset karyawannya. Caranya adalah dengan mengirim staf level middle ke luar negeri untuk belajar manajemen teknis kereta api modern di sana. Baru-baru ini KAI mengirim 20 orang ke Valencia (Spanyol) untuk belajar. "Lho, kenapa begitu pak? Ngabisin duit itu namanya", tukas seorang wartawati cepat menyambar. "Karena KAI sudah gak ada masalah skill, karena orang kita hebat-hebat semua. Yang minus itu mindsetnya. Contoh: kita sekarang udah capek bilangin orang-orang agar jangan buang sampah sembarangan. Coba bawa ke Singapur yang bersih dimana-mana. Baru orang Indonesia sadar bahwa bersih itu indah dan enak dilihat. Nah, sadar dia karena mindsetnya sudah berubah. Mengubah mindset kadang butuh melihat contoh teladan langsung. Caranya ya kirim ke luar negeri, kalau perlu sampai ke tukang sapunya juga dikirim ke sana biar 'melek' dan berubah mindsetnya". Hmmm, benar juga...
Pukul 13:30 dan Pak Dahlan bergegas ada acara lain. Tak menyia-nyiakan sedikit kesempatan, Mas Dodie menghampiri dan minta nasihat. "Anak muda itu tidak layak diberi nasihat. Anak muda harus diberi kesempatan", jawab beliau sambil senyum dan berlalu.
Sabtu, 21 Januari 2012
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 comments:
Poskan Komentar